Nganjuk-Lintas Nasional99.com - sabtu 06-06-2026 dinas pariwisata juga mengikuti memeriahkan Ribuan warga memadati sepanjang jalur kirab dalam peringatan Boyong Nayoko Projo dan Sedekah Bumi Hambangun Projo 2026, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan yang menjadi agenda budaya tahunan Pemerintah Kabupaten Nganjuk tersebut berlangsung meriah dan penuh makna sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perpindahan pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk yang telah berlangsung 146 tahun silam.
Prosesi kirab dipimpin langsung oleh Bupati Nganjuk Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, S.E., S.H., M.M., M.B.A. bersama Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro, S.T., dengan menempuh rute dari Alun-Alun Berbek menuju Pendopo KRT Sosrokoesoemo Nganjuk.
Kirab diawali oleh mobil Patwal Satlantas dan Kereta Pusaka sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah Kabupaten Nganjuk. Selanjutnya, rombongan bupati dan wakil bupati Forkopimda, pimpinan DPRD, dan kepala dinas dan jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, kepala desa, serta berbagai elemen masyarakat mengikuti iring-iringan menggunakan dokar dan kendaraan tradisional.
Sebanyak 80 armada dokar dan 51 becak hias turut memeriahkan kegiatan. Berbagai ornamen khas daerah menghiasi kendaraan-kendaraan tersebut, menciptakan suasana semarak yang memukau masyarakat yang memadati sepanjang jalur kirab.
Tidak hanya itu, peringatan Boyong Nayoko Projo tahun ini juga dimeriahkan dengan penampilan beragam seni dan budaya dari seluruh kecamatan di Kabupaten Nganjuk. Para peserta menampilkan pakaian adat, tarian tradisional, kesenian rakyat, hingga berbagai kreasi budaya yang mencerminkan kekayaan warisan leluhur daerah ANJUK ladang.
Keikutsertaan seluruh OPD, kecamatan, sanggar seni, komunitas budaya, hingga masyarakat umum menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dalam menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern dan kesenian reog jaranan juga ikut serta meramaikan.
Tepat 146 tahun lalu, pada tahun 1880, pusat pemerintahan Kabupaten Berbek resmi dipindahkan ke Nganjuk. Gagasan pemindahan tersebut pertama kali dicetuskan oleh Adipati Sosrokusumo III pada tahun 1878. Sebelum menjadi satu kesatuan wilayah, kawasan Nganjuk terdiri dari empat kadipaten, yakni Kadipaten Berbek, Kadipaten Pace, Kadipaten Nganjuk, dan Kadipaten Kertosono.
Keempat wilayah tersebut kemudian disatukan pada tahun 1830 di bawah Kadipaten Berbek, sebelum akhirnya ibu kota pemerintahan dipindahkan ke Nganjuk pada tahun 1880. Peristiwa bersejarah inilah yang setiap tahun diperingati melalui tradisi Boyong Nayoko Projo
Selain kirab budaya, masyarakat juga disuguhkan tradisi Sedekah Bumi Hambangun Projo yang menghadirkan berbagai hasil pertanian unggulan Kabupaten Nganjuk. Gunungan yang berisi aneka sayur-sayuran, buah-buahan, padi, jagung, bawang merah, dan hasil bumi lainnya menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berkah dan hasil panen yang melimpah.
Puncak kemeriahan terjadi saat gunungan hasil bumi dibagikan kepada masyarakat. Ratusan warga tampak antusias berebut hasil bumi yang diyakini membawa berkah, kemakmuran, serta harapan akan panen yang semakin baik di masa mendatang.
Bupati Nganjuk, Kang Marhaen, mengatakan bahwa Boyong Nayoko Projo bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengenang perjuangan para leluhur yang telah membangun fondasi dinas pariwisata ikut melestarikan Kabupaten Nganjuk.
Menurutnya, tema Hambangun Projo mengandung makna membangun daerah secara bersama-sama dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, pemerintah, Forkopimda, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan generasi muda.(£my.sr)


