Nganjuk LintasNasional99. com - Malam minggu 11-Juli -2026, diakhir bulan suro 1960 saka, Gus Atiq (K.H. Muhamad Atiq Al-Mursyid/Ghouts Muhammad Atiq Rusthon Ghofur), sosok  tokoh agama dan pengasuh Pondok Pesantren Mangunsari di Kecamatan Loceret  Nganjuk, dikenal luas sebagai pemimpin majelis dzikir dan doa Istighotsah Al-Bahry, menggelar istighosah dan pengajian yang dihadiri ribuan orang di alun - alun Berbek Kab. Nganjuk.


Malam khidmat yang dikaitkan dengan Haul peringatan hari wafatnya Kanjeng Jimat  Bupati Berebek yang pertama
Kanjeng Jimat dikenal dengan Raden Tumenggung (KRT) Sosrokusumo menjabat sebagai Bupati Berbek pertama pada awal abad ke-19, ditengarahi  mulai memimpin wilayah Berbek sekitar tahun 1811 M hingga 1812 M.


Jejak peninggalan bersejarah beliau antara lain  Masjid Al-Mubarok (Masjid Kanjeng Jimat) dan kompleks makam di Berbek. Khusus komplek pemakaman yang berada di sekitar Masjid  jejaknya sudah ada lebih awal yaitu pada tahun 1745 M.

Malam akhir Suro masyarakat Berbek menggugah langit dengan melakukan istighosah akbar bersama majelis dzikir dan doa Al-Bahry pimpinan  K.H. Muhamad Atiq Al-Mursyid/Ghouts Muhammad Atiq Rusthon Ghofur.

Harapannya berdoa pada Tuhan yang Maha Esa,  memohon ampun dan petunjuk akan kebenaran yang dikuatkan imannya pada Tuhan, serta dapat menjalankan ibadah senantiasa sehat walafiat, dan banyak diberi kemudahan dalam usaha, juga memohon senantiasa dilindungi akan keselamatannya.

Doa akan kebaikan daerahnya untuk diberikan kemudahan dalam membangun.dan dijauhkan dari mata bahaya kota nganjuk aman Damai 
Apakah para  oknum PEJABAT yang sedang memangku JABATAN seiring dengan ketulusan doa Harapan Rakyat Kepada Tuhan dengan melakukan istighosah.

Malam akhir Suro 1960 Saka di alun alun Berbek  ibukota pertama Kabupaten Nganjuk masyarakat melakukan  istighosah akbar bersama majelis dzikir dan doa  Al-Bahry, sebagai aktualisasi rakyat cinta pada negara dan daerahnya, menggugah langit memohon pada Tuhan Yang Maha Esa agar daerahnya maju, sejahterah dan jauh dilanda mara bahaya. 

Dari rentetan acara yang didukung dan dikepalai  dari bapak haris mujoyo   dengan paanggilan Syeh padang  dari mulai diadakan acara hiburan jaranan dan sholawat dilanjut terahkir istighosah al bhary ini  dengan disambut antusias sias warga yg membuktikan ribuan jamaah yang hadir.
 

Acara akbar yang digelar pada malam minggu(111-7-2026) ini ditujukan untuk ngalap berkah sekaligus mendongkrak kembali marwah wisata religi Makam Waliyullah Mbah Kanjeng Jimat. Rangkaian acara berlangsung spektakuler dengan menampilkan  istighosah  al bhary   


Di balik megahnya acara ini, terdapat kisah kepedulian yang luar biasa dari sang inisiator, Gus Arisatau Syeh padang Pria bertubuh tegap yang sehari-hari berprofesi sebagai lawyer di Nganjuk ini secara blak-blakan mengungkap bahwa pergelaran berskala besar tersebut murni didanai dari kantong pribadinya.



Kepada awak media, Gus Aris juga menyampaikan rasa terima kasihnya atas publikasi kegiatan ini. 
Ia menegaskan target utama dari acara ini adalah menghidupkan kembali sektor wisata religi setempat.


Acara ini kami gelar dalam rangka Grebeg Suro dan Haul Mbah Kanjeng Jimat," singkat Gus Aris. /Syeh padang
Karena Mbah Kanjeng Jimat itu juga termasuk waliyullah yang banyak dikunjungi wisata religi dan kita juga mau mengangkat, menyedot para peziarah-peziarah khususnya di makam Mbah Kanjeng Jimat





Harapan saya mudah-mudahan dengan rida Allah SWT lantaran Mbah Kanjeng Jimat, semuanya elemen baik birokrasi, masyarakat sipil, dan lain sebagainya, bisa gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo. Jadi bahasanya ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Kabeh kudu podo iso kabeh, pungkas Gus Aris/syeh padang

Ke depan, mari kita pertahaman sinergi ini. Sesuai falsafah Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, semua elemen baik pemerintah, tokoh agama, maupun warga sipil harus kompak, nyawiji, dan merasa memiliki (£my.sr