𝗗𝗶𝗻𝗸𝗲𝘀 𝗣𝗮𝗰𝗶𝘁𝗮𝗻 :"𝐖𝐚𝐬𝐩𝐚𝐝𝐚𝐢 𝐋𝐞𝐩𝐭𝐨𝐬𝐩𝐢𝐫𝐨𝐬𝐢𝐬 𝐏𝐚𝐬𝐜𝐚 𝐌𝐮𝐬𝐢𝐦 𝐏𝐚𝐧𝐞𝐧 𝐏𝐚𝐝𝐢"

"Waspada Leptospirosis! "Musim Panen Padi Menyisakan Masalah Serius, Karena Hama Tikus Mencari Tempat Untuk Bertahan Hidup"

Pacitan 𝗟𝗶𝗻𝘁𝗮𝘀𝗡𝗮𝘀𝗶𝗼𝗻𝗮𝗹 𝟵𝟵.𝗰𝗼𝗺 -  Leptospirosis, adalah penyakit dari urine tikus di air/lumpur sawah saat panen, mengancam dengan gejala demam tinggi, nyeri betis, dan mata merah. Segera cuci kaki-tangan dengan sabun, gunakan sepatu boots, dan ke puskesmas jika sakit. Bahaya jika terlambat ditangani, bisa fatal. 


Tindakan Pencegahan Penting:
Gunakan APD: Gunakan sepatu boots dan sarung tangan saat di sawah, becek, atau membersihkan selokan.
Kebersihan Diri: Segera cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah beraktivitas, terutama jika ada luka.
Jaga Lingkungan: Pastikan rumah bebas tikus dan simpan makanan aman dari jangkauan hewan pengerat.
Gejala: Demam, nyeri betis, mata merah/kuning segera ke faskes.

"Musim panen bukan hanya meninggalkan kebahagiaan bagi petani tapi juga risiko penyakit berbahaya seperti Leptospirosis yang ditularkan melalui air tercemar urine hewan pengerat . Penyakit ini bisa bikin demam tinggi, nyeri otot, mata merah & menguning—bahkan bisa fatal kalau telat ditangani!" jelas dr.Daru Mustikoaji Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pacitan pada awak media, Kamis 02/04/2026.

Jadi, apa yang harus kita lakukan?

Tindakan medis leptospirosis berfokus pada pemberian antibiotik untuk membunuh bakteri Leptospira dan perawatan suportif untuk mengatasi gejala. Antibiotik seperti doksisiklin (untuk kasus ringan) atau penisilin/seftriakson (untuk kasus parah) paling efektif jika diberikan secepat mungkin. Penanganan suportif meliputi cairan infus, obat pereda demam, hingga cuci darah (dialisis) jika terjadi komplikasi.


"Penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter atau IGD, terutama jika gejala memburuk seperti penyakit kuning, sesak napas, atau kaki/tangan bengkak, untuk mencegah komplikasi fatal. Pencegahan melalui obat profilaksis seperti doksisiklin juga dapat dipertimbangkan untuk paparan risiko tinggi" imbuh dr.Daru Mustikoaji. 



Prinsip penatalaksanaan leptospirosis adalah eliminasi bakteri Leptospira dengan antibiotik serta pemberian terapi suportif yang diperlukan. Mayoritas kasus leptospirosis ringan bersifat self-limiting dan belum tentu membutuhkan antibiotik. Akan tetapi, kasus yang berat umumnya perlu diberikan antibiotik.



Beberapa ahli berpendapat bahwa pemberian antibiotik tidak diperlukan pada kasus ringan, tetapi beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa pemberian antibiotik diperlukan untuk kasus ringan dan untuk pencegahan. Pasien yang dicurigai leptospirosis ringan umumnya dapat berobat jalan saja, tetapi perlu diedukasi untuk segera ke rumah sakit apabila mengalami perburukan gejala.



Sementara itu, pasien yang dicurigai leptospirosis berat harus dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas ICU memadai. Apabila leptospirosis yang berat tidak ditangani dengan cepat dan tepat, penyakit ini dapat mengakibatkan kerusakan multiorgan yang berakhir pada kematian. (Addy.MG)